
Haaaaaaaaaaiii!!!! Kenalkan, foto di atas adalah ayahku :)
Ya, beliau merupakan sosok lelaki yang berwibawa, motivator, dan inspiratorku. Lihat saja dari fotonya yang memakai sabuk hitam taekwondo, dapat menginspirasi diriku untuk menjadi sabeum (pelatih taekwondo) juga nantinya seperti ayahku. Tapiiiii, akhir-akhir ini - ga juga sih, udah setahun ini - ak jarang - ga pernah lagi - latihan taekwondo lagi di kampus. Huhuhuhu. Sedih sih, tapi aku sudah niatkan kalau tidak lama lagi, aku pasti akan kembali ke Unit Taekwondo Unpad dan reuni dengan teman-teman lama. Wohooo! Setiap langkah yang dijejakkan kaki ayahku ke kehidupannya, aku selalu ingin menjadi seperti ayahku kelak. Kuat iman, fisik, dan finansial.
Ayahku pernah bercerita, waktu beliau masih kecil dan tinggal di Ampek Angkek, salah satu kampung di Bukit Tinggi yang terletak di kaki Gunung Merapi, beliau benar-benar menyatu dengan alam. Mandi di sungai atau di air terjun bersama kawan-kawan, ke sekolah dengan berjalan kaki melewati petak sawah hijau sejauh tiga kilometer lebih, bermain dengan binatang-binatang di sana, dan tidak lupa setiap sorenya mengaji di surau. Hal yang benar-benar ayahku senangi adalah bermain mencari kodok atau apalah istilah permainannya, dan bermain mobil-mobilan yang dirakit dari kayu. Nah karena ayahku senang dengan mainan mobil-mobilan tersebut, tetapi karena waktu itu ayah diajarkan untuk menjadi mandiri dan rajin menabung, ayahku tidak membeli mainan mobil, melainkan merakit sendiri. Beliau suka mengumpulkan kayu-kayu dari hutan dengan entah bagaimana caranya dan akhirnya ayahku mempunya begitu banyak mainan mobil-mobilan di rumah hasil dari rakitan sendiri. Itulah mengapa ayahku pernah bilang kalau beliau senang dengan hal pertukangan, seperti membuat lemari, meja tulis, mainan dari kayu, dan lain-lain. Bahkan ketika aku masih kecil, ayahku sering berkarya dalam hal pertukangan tersebut. Hasilnya? Sepadan dengan barang-barang yang dijual di toko-toko furniture, hanya dengan bermodalkan kayu-kayu, gergaji, dan paku dkk.
Selain berbakat dalam pertukangan, ternyata papi juga berbakat untuk urusan tanam-menanam atau perkebunan deh istilahnya, dan ayahku senang menanam sayur-sayuran, daun salam, daun serai, daun pandan, pohon mangga, pohon jeruk, cabai, tomat, kemiri, dan banyak lagi dah, keriting nih jariku kalau aku ketikin satu-satu. Alhasil? Alhamdulillah, selalu berbuah dengan subur dan besar-besar. Entah karena tangan ayahku bertangan dingin atau karena telaten kali ya, tapi kalau telaten pun, sepertinya tidak juga secara ayahku pulang ngantor saja jam 4 dan itupun langsung olahraga sepak bola di lapangan dekat kantor sampai jam 6 sore.
Ayahku juga selain termasuk orang yang tidak terlalu neko-neko, beliau adalah orang yang paling tegas dan mandiri. Kalau mandiri sudah jelas, secara selepas lulus SD, beliau langsung merantau ke Jakarta untuk lanjut sekolah. Dalam hal yang tegas ini, ayahku selalu menekankan dengan kata “tepat waktu”. Sepertinya tepat waktu itu sudah merupakan gelar tersendiri yang disandang ayahku dari dulu. Kalau kami, yang anak-anak, telat satu menit saja, langsung deh kena omel pedas dari ayah. Ada kalimat yang selalu aku ingat dari ayah ,”Hargailah waktumu. Satu menit saja kamu tertinggal, berarti kamu meninggalkan satu kesempatan”. Mungkin karena didikan ayahku seperti itu, beliau sukses menjadikan diriku yang selalu tepat waktu, gesit, dan jauh dari lemot hingga sekarang.
Setelah aku pikir-pikir, sepertinya terlalu banyak sifat-sifat ayahku yang diturunkan ke aku ketimbang dari ibuku. Mulai dari penampilan yang cuek, ngomong juga ceplas-ceplos, disiplin waktu, bahkan tanpa tersadar pun dan ini sering terjadi, aku suka duduk dengan kaki yang menganga lebar (ga ada anggunnya sedikit pun).

Mungkin ada pepatah yang bilang, like mother like daughter, tapi sepertinya bagi aku nih, like father like daughter.



