Paralayang : Ketagihan Gue!!!
Dari mana aku mesti mulai ya? Dari dulu sampai sekarang itu ya, aku selalu kesulitan untuk memulai suatu cerita karena aku terbiasa dengan sistem to-the-point. Ya sudah, langsung saja ke inti ceritanya saja ya :)
Liburan tahun baru kemarin, tanggal 31 Desember 2012, saya beserta keluarga saya menghabiskan New Year’s Eve di kawasan Puncak, Jawa Barat. Sebenarnya tidak ada niat untuk ber-outbond ria pada hari itu. Cuman, tiba-tiba ada suatu jalan kecil yang mengarah ke atas bukit. Karena penasaran, Papi langsung saja membanting stir ke kiri untuk masuk ke jalan tersebut.
Kita disambut sama penjaga pintu depan untuk melakukan transaksi pembayaran. Yah bayarnya hanya goceng kok. Kata bapak itu, setelah kita memasuki wilayah ini, kita akan disambut dengan kebun teh hingga sampai puncak bukit di atas. Nah di atas sana, kata beliau lagi, ada rekreasi paralayang, cuman bayarnya Rp 300.000,-. Ya sudah deh, kita tancap gas saja sampai ke atas bukit.
Sesampai di sana, memang benar kita disambut dengan hamparan luas perkebunan teh di bawah puncak dan lika-liku jalanan yang berseliweran di bawah seperti cacing. Mami menawarkan ke kita, anak-anaknya, untuk bermain paralayang. Awalnya aku sempat ragu-ragu dengan safety-nya, apalagi Papi juga sebenarnya kurang setuju. Tapi karena rasa penasaran yang menggebu-gebu, juga saat melihat ada beberapa orang yang langsung “terjun”, tekadku semakin kuat kepengin ikutan “terjun” bareng mereka. Setelah kubujuk Papi dan juga dari rayuan Mami, aku dibolehin deh main paralayang. Dengan semangatnya aku langsung mendaftar dan disuruh untuk membaca terlebih dulu tentang aturannya kalau terjadi apa-apa dengan aku seperti cedera atau cacat yang akan timbul, pihak tersebut hanya sebatas membayar asuransi kesehatannya tetapi tidak boleh dituntut ke pengadilan.
Di lapangannya, aku langsung diserbu sama petugas dan pilotku untuk membantuku memakaikan peralatan paralayang. Tak lupa juga dong, narsisme itu wajib! Makanya aku suruh abang dan papiku untuk memfoto aku saat mau terbang. Siap dengan semuanya, saatnya aku terbaaaaang!
Bermula dengan jalan kaki beberapa langkah (beserta pilot di belakangku sebagai penuntun), kemudian mulai berlari deh sampai ke jurang. Baru saat pilot mengatakan “Loncat!”, aku benar-benar loncat dari jurang dan woaaaaah aku terbang bersama sang pilot di belakangku dengan parasutnya yang sudah mengembang di atas awan. Wuiiiih!!! Bbrrrrrrr!!! Angin dingin langsung menerpa wajahku yang semaput kaget dong!
Waaah indah sekali pemandangannya dari atas ketinggian puncak. Sambil dibelai angin sejuk, aku melihat ke bawah dan pemandangan menakjubkan benar-benar menarik perhatian setiap mata yang melihat. Di bawah kita, terhampar bentangan karpet hijau nan luas yang menandakan rerumputan dan macam-macam perkebunan dengan bermacam-macam pola, ada petak-petak, bulat, dan berkelok-kelok. Indah sekali, kawan! Maafkan aku yang tak bisa menjelaskan terlalu detail bagaimana pemandangan tersebut jika dilihat dari atas langit, karena memang susah jika diutarakan dengan kata-kata.
Akhirnya, setelah 10-15 menit berada di atas awan, kita mendarat di tempat tertentu yang memang sebagai pendaratan para atlit paralayang. Buuuussh! Kita mendarat dengan……………………………..
eng ing eeeeeng. Dengan pantat! Hahahahaa! Ya benar dengan pantat kita, karena aku adalah pemula dan bukan atlit. Biasanya para atlit menggunakan pijakan kakinya untuk mendarat di tanah. Tapi itu membutuhkan 3 hingga 5 tahun untuk benar-benar mahir hanya mempelajari tata cara mendarat yang benar. Ajegileeeee tobat deh~
Setelah melepaskan atribut paralayang, aku dan pilotku telah ditunggu oleh sopir yang akan mengantarkan kita kembali ke puncak bukit tadi. Lagipula, keluargaku kan masih berada di sana. Di dalam mobil, aku bertemu dengan satu orang lagi, seorang lelaki berumur 18 tahun yang telah mempelajari olahraga paralayang ini sejak beberapa tahun yang lalu. Dia bercerita banyak tentang pengalamannya hingga banyak cedera yang dialaminya. Tapi yang namanya hobi, seberapapun bahayanya itu, hingga banyak resiko yang akan dihadapi, toh, tetap ga bakal memadamkan api semangat untuk memenuhi keinginan hobinya tersebut. Ya ga sih?
ps : olahraga paralayang ini berbahaya untuk penderita vertigo, sesak napas & asma, jantung, dan penderita altophobia (orang yang takut kepada ketinggian). Jangan ambil resiko terlalu jauh jika kondisi badan tidak memungkinkan.




1
